Atsar Mengenai Para Sahabat Rasulullah Khususnya khulafa’u Rasyidin 5/5 (5)

30 Likes Comment
Atsar Para Sahabat Rasulullah

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim dari As Suddi, me ngenai firman Allah Swt.:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”

As Suddi berkata bahwa Umar bin al Khaththab r.a. berkata, “Sekiranya Allah Swt. menghendaki, Dia akan berfirman dengan menggunakan lafadz اَنْتُمْ yang maksudnya “Kamu semuanya”. Akan tetapi Allah berfirman ” “, yaitu khusus untuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. dan siapa saja yang meniru perbuatan mereka. Dengan demikian, merekalah sebaik baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.”

Dalam riwayat Ibnu Jarir, dari Qatadah r.a. berkata, “Kami diberitahu bahwa Umar bin al Khaththab r.a. telah membaca ayat ini (Qs. Ali Imran: 110 di atas) kemudian ia berkata, ‘Wahai manusia! Barangsiapa yang gembira bila termasuk ke dalam ayat itu, hendaknya dia menunaikan syarat-syarat yang telah ditetapkan Allah untuknya.” (Kanzal Úmmal [1/238])

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (1/375) dari Ibnu Mas’ud r.a. yang berkata, “Sesungguhnya Allah melihat ke dalam qalbu para hamba-Nya, maka Dia pun memilih Muhammad, dan mengutus beliau dengan risalah-Nya dan memilihnya berdasarkan ilmu-Nya. Kemudian Dia melihat ke dalam qalbu manusia setelah itu, maka Dia memilih untuknya sahabat-sahabatnya, kemudian menjadikan mereka penolong penolong agama-Nya dan pembantu Rasul-Nya. Maka sesuatu yang dilihat orang-orang beriman sebagai kebaikan, maka itulah kebaikan. Sebaliknya, sesuatu yang dilihat orang-orang beriman sebagai suatu keburukan, maka itu pun buruk di sisi Allah Swt.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Ábdul Barr dalam kitab al Isti’ab

(1/6) dari Ibnu Mas’ud r.a. dengan makna sama tanpa menye butkan kalimat: “Apa yang dilihat oleh orang-orang beriman….” sampai pada akhirnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh ath Thayalisi (hal. 33) seperti hadits Abu Nu’aim.

Diriwayatkan oleh Ábu Nu’aim dari Abdullah bin Umar r.huma., kata nya, “Barangsiapa yang ingin mengikuti suatu sunnah, maka ikutilah sunnah mereka yang telah wafat, mereka itulah sahabat-sahabat Muhammad saw. Karena mereka adalah golongan manusia yang terbaik dalam umat ini, paling baik qalbunya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit kepura-puraannya. Mereka adalah kaum yang telah dipilih Allah Swt. untuk mendampingi Nabi-Nya dan menyebarkan agama-Nya. Maka contohlah akhlak dan perbuatan mereka. Mereka adalah sahabat-sahabat Muhammad saw., mereka di atas petunjuk yang lurus, demi Allah Tuhan Ka’bah.” Demikian tercantum dalam kitab al Hilyah (1/305).

Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dari Ábdullah bin Mas’ud r.a. yang berkata kepada para tabi’in, “Kalian memang lebih banyak shaum, me ngerjakan shalat dan menanggung kesusahan daripada para sahabat Rasulullah saw, tetapi mereka tetap lebih baik daripada kalian.”

Mereka berkata, “Mengapa demikian, hai Abu Abdur Rahman?” Ábdullah telah mendengar seorang lelaki berkata, “Di manakah orang-orang yang zuhud terhadap dunia, dan bergairah kepada kehidupan akhirat?” Ábdullah pun berkata, “Mereka adalah penghuni al Jabiyah¹, yaitu Jawab Ibnu Mas’ud, “Mereka lebih zuhud (tidak mencintai dunia) dan lebih bergairah kepada kehidupan akhirat (apabila dibandingkan dengan kalian).” Demikian diriwayatkan dalam kitab al Hilyah (1/136).

Abu Nu’aim juga meriwayatkan dari Abu Wa’il, yang berkata bahwa lima ratus orang muslim yang telah menetapkan untuk tidak kembali dari jihad sehingga terbunuh. Mereka telah menggunduli kepala mereka dan bertempur dengan musuh, lalu semuanya gugur syahid, kecuali seorang saja sebagai penyampai berita mengenai mereka.” Kabar ini tercantum dalam kitab Hilyah al Auliya’ (1/135).

Atsar Para Sahabat Rasulullah

Abu Nu’aim juga meriwayatkan dari Ibnu Úmar r.huma, bahwa ia mendengar seorang lelaki berkata, “Di manakah orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan bergairah kepada kehidupan akhirat?” Maka Ibnu Umar menunjukkan kepadanya kuburan Nabi saw., Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.. Kemudian Ibnu Úmar berkata, “Adakah kamu bertanya mengenai mereka?” Demikian tersebut dalam kitab al Hilyah (1/307).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abu ad Dunya dari Abu Arakah, katanya: Aku pernah mengerjakan shalat shubuh bersama Áli r.a.. Ketika ia berpaling ke kanan, ia terdiam seakan-akan telah ditimpa kesedihan. Sampai ketika matahari telah berada di atas dinding masjid kira-kira setinggi tombak, ia shalat dua rakaat (shalat dhuha). Kemudian membalikkan tangannya dan berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya aku telah melihat sahabat-sahabat Muhammad saw., dan aku tidak melihat siapa pun pada hari ini yang menyerupai mereka. Pagi-pagi mereka dalam bertangan kosong, rambut yang kusut dan pakaian yang berdebu, di antara kedua mata mereka terdapat tanda hitam bagaikan lutut kambing.”

“Mereka menghabiskan waktu malamnya dengan sujud dan berdiri (sibuk mendirikan shalat) karena Allah, membaca kitab Allah, kemudian mereka naik turun di antara dahi dan tapak kaki mereka.”²

“Pagi-pagi mereka berdzikir kepada Allah, sambil bergerak-gerak miring sebagaimana pohon yang bergerak pada hari yang berangin, dan air mata mereka bercucuran hingga membasahi pakaiannya. Demi Allah! Sesungguhnya kaum yang ada sekarang menghabiskan waktu malamnya dalam keadaan lalai.” Kemudian Áli r.a. bangun dan aku tidak pernah lagi melihatnya tertawa sampai kelihatan giginya, hingga ia terbunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah yang fasik. Demikian tersebut dalam kitab al Bidayah (8/6).

Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam kitab al Hilyah (1/76), demikian juga adDinawari, al Áskari, dan Ibnu Asakir seperti yang ada dalam kitab al Kanz(8/219)

Abu Nu’aim meriwayatkan (1/84) dari Abu Shalih, katanya: Dhirar bin Dhamrah al Kinani masuk ke dalam majelis Mua’wiyah dan ia berkata kepadanya, “Beritahukan kepadaku mengenai sifat Áli r.a.

” Dhirar berkata, “Apakah engkau akan membiarkan aku menerangkan sifat Áli dan engkau tidak akan menahanku?” “Tidak,” jawab Mu’awiyah, “Aku tidak akan menahanmu.” Dhirar berkata, “Adapun bila tidak bisa tidak aku harus menerangkannya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Áli adalah seorang yang berpandangan jauh, mempunyai kekuatan yang luar biasa, sangat jelas tutur katanya, sangat adil keputusannya, terpancar ilmu darinya, kata-kata yang keluar dari mulutnya mengandung hikmah, selalu merasa jijik terhadap dunia dan kenikmatannya, sering beribadah pada malam hari dan kegelapan adalah temannya.”

“Demi Allah, ia adalah seorang yang sering menangis karena takut ke pada Allah, selalu berpikir panjang, senantiasa menyesali dosa-dosanya dan menasihati dirinya sendiri, menyukai pakaian yang kasar, menyukai makanan yang sederhana tanpa lauk. Demi Allah, bila kami mendatanginya, maka ia persis seperti salah seorang di antara kami yang menghampiri kami, dan menjawab setiap pertanyaan kami bila kami bertanya padanya. Walaupun ia sangat dekat dengan kami dan kami pun dekat dengannya, namun kami tidak pernah berani bicara di hadapannya karena kewibawaannya. Jika tersenyum, bagaikan mutiara yang tersusun. la sangat menghormati ahli-ahli agama dan mengasihi orang-orang miskin. Orang-orang yang kuat tidak bisa mengharapkan kesalahannya dan orang-orang lemah tidak berputus asa dari keadilannya.”

“Maka aku bersaksi dengan nama Allah bahwa sesungguhnya aku telah melihatnya di dalam beberapa kesempatan ketika ia memasuki mihrabnya pada waktu malam yang sunyi sambil memegang janggutnya. la bolak-balik gelisah sekali seperti kegelisahan orang yang dipatuk ular dan ia menangis dengan tangisan orang yang sangat sedih, seakan-akan aku masih mende ngarnya sekarang ketika ia berkata, Ya Rabb kami, ya Rabb kami.’ la meratap kepada-Nya sambil berkata kepada dunia, Hai dunia, apakah kamu hendak menipuku? Apakah kamu mengawasiku? Jauh sekali, jauh sekali. Godalah orang selain aku. Sesungguhnya aku telah menceraikanmu dengan talak tiga. Umurmu pendek, majelismu sangat hina, dan kemuliaan serta kedudukanmu sangat sedikit dan hina. Alangkah sengsaranya aku karena bekalku sedikit sedangkan perjalanan masih jauh serta jalannya sangat berbahaya.

Kemudian bercucuranlah air mata Mu’awiyah yang tidak sanggup ia tahan hingga membasahi janggutnya, kemudian ia menyapu air matanya dengan ujung lengan bajunya. Kemudian menangislah seluruh orang yang hadir di tempat itu.

Berkatalah Muawiyah, “Begitulah keadaan Abu al Hasan (Ali r.a.). Bagaimanakah kesedihanmu terhadap Áli?”

Dhirar menjawab, “Kesedihanku terhadapnya seperti kesedihan seorang ibu yang melihat salah satu anaknya disembelih di atas pangkuannya. Tidak berhenti cucuran air matanya dan kesedihannya tidak pernah reda.”

Kemudian Dhirar bangkit dan keluar.

Ibnu Abdul Barr juga meriwayatkan dalam kitab al Isti’ab (3/ 44) dari al Hirmazi – seseorang dari suku Hamdan -dari Dhirar as Suda’i dengan makna sama.

Dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Qatadah r.a., katanya: Ibnu Umar telah ditanya orang, “Apakah sahabat-sahabat Rasulullah

saw. tertawa?” Kata Ibnu Úmar r.a., “Ya, tetapi iman yang ada di hati mereka lebih besar daripada gunung.”

Demikian tercantum dalam kitab al Hilyah (1/311). Diriwayatkan oleh Hannad dari Sa’id bin Umar al Qurasyi bahwa Umar ra telah melihat satu kafilah dari Yaman yang tenda mereka terbuat dari kulit. Maka berkatalah Umar r.a., “Barangsiapa ingin melihat orang orang yang serupa dengan para sahabat Rasulullah saw., maka lihatlah mereka.” Demikianlah tersebut di dalam kitab Kanzal Ummal (7/163).

Abu Bakar Ash Shiddiq R.A.

Umar Bin Khaththab Al Faruq R.A.

Utsman Bin Affan R.A.

Ali Bin Abi Thalin R.A.

Abbas R.A.

Abu Ubaidah Bin Al-jarrah R.A.

Catatan kaki


¹Al Jabiyah adalah satu kota yang termasuk dalam wilayah operasi Damaskus. Tempat ini menjadi markas pasukan Islam pada masa Umar. Bila datang ke Syam, Úmar r.a, biasanya mengunjunginya dan berkhutbah di sana. Akan tetapi sekarang telah runtuh. Di dekatnya ada bukit besar yang mereka beri nama bukit al Jabiyah, yang banyak ularnya. Tempat ini juga disebut Jabiyah al Jaulan dan Sumber Air. Peristiwa al Jabiyah ini terjadi di tengah pe naklukan negeri Syam. Ibnu Mas’ud termasuk ke dalam orang yang mengikuti perang dinegeri Syam.

²Dalam keadaan sujud dan berdiri. (In’am)

You might like