Hadits-Hadits Mengenai Sifat Rasulullah Saw 5/5 (4)

31 Likes Comment
hadits tentang Rasulullah

Diriwayatkan oleh Ya’kub bin Sufyan al Fasawi al Hafizh dari al Hasan bin Ali r.huma. katanya: Aku pernah bertanya kepada pamanku yang ber nama Hindun bin Abu Halah yang sangat pandai dalam menceritakan ciri ciri Rasulullah saw. dan aku sangat menginginkan agar ia menceritakannya kepadaku supaya aku dapat mengingatnya. Ia berkata, “Rasulullah saw. adalah seorang yang agung dan diagung kan, wajahnya bercahaya seperti cahaya bulan purnama. Rasulullah lebih tinggi dari orang yang berbadan sedang dan lebih rendah dari orang yang tinggi (maksudnya bertubuh sedang). Dadanya bidang, bentuk kepalanya agak besar, rambutnya ikal dan ditata rapi dibelah dua di tengah apabila disisir, apabila beliau membiarkan rambutnya terurai, panjang rambutnya melebihi cuping telinganya bila beliau menguraikannya.”

Gambaran Wajah dan Perawakan Rasulullah

“Kulitnya cerah, putih kemerah-merahan, dahinya lebar, kedua alisnya panjang melengkung, sungguh bagus tapi tidak bersambung. Di antara ke duanya terdapat urat yang bisa terlihat bila beliau sedang marah. Hidung nya panjang, membungkuk di tengahnya, kecil ujungnya dan ujungnya bersinar sinar, sehingga orang yang tidak begitu memperhatikan menganggap hidung beliau itu mancung .

“Janggut beliau sangat tebal. Bola matanya sangat hitam. Kedua belah pipinya halus rata. Mulutnya sederhana dan lebar, giginya putih berkilat.tajam dan jarang. Di dadanya tumbuh bulu yang halus dan lembut. Lehernya jenjang putih melepak, bagaikan warna putih perak. Bentuk anggota tubuhnya proporsional, tubuhnya besar, anggota-anggota tubuhnya saling menopang satu sama lain. Perut dan dadanya sama rata (tidak buncit sedikit pun). Dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar.”

“Rasulullah memiliki ujung tulang yang besar. Bagian tubuhnya yang tidak berbulu nampak berkilauan. Bagian bawah leher dan pusarnya tersambung oleh jalinan bulu halus bagaikan sebuah garis. Kedua tetek dan perut nya tidak ditumbuhi bulu. Di kedua belah siku, bahu dan dadanya terdapat bulu yang lebat. Kedua lengannya panjang dan telapak tangannya lebar, Jari-jari serta telapak kedua tangan dan kakinya tebal berdaging. Jari jemarinya panjang. Kedua belah sikunya kasar. Telapak kakinya berlekuk. Kedua belah tumitnya halus dan licin sehingga air selalu tergelincir jatuh darinya.”

“Apabila berjalan, beliau mengangkat kakinya tinggi-tinggi dari tanah dengan tegap dan kuat, langkah kakinya berayun-ayun dan berjalan dengan lembut tetapi cepat. Apabila beliau berjalan, nampak seperti sedang berjalan di tempat yang menurun. Apabila menoleh, beliau akan memutarkan seluruh tubuhnya. Senantiasa tunduk dan merendahkan pandangannya. Pandangannya lebih sering ke bawah (tunduk) daripada menengadah. Apabila memandang, beliau hampir selalu dengan melirik. Selalu berjalan di belakang para sahabatnya, jika mereka berjalan bersama-sama. Rasulullah selalu mendahului memberi salam apabila berjumpa dengan orang di jalan.”

Kebiasaan Rasulullah

Aku berkata, “Beritahukan kepadaku kebiasaan Rasulullah.” la berkata, “Rasulullah selalu dalam keadaan sedih yang berkepanjangan, selalu berpikir dan tidak pernah beristirahat. Tidak berkata-kata kecuali seperlunya, beliau lebih sering diam. Beliau memulai dan menyudahi pembicaraan dengan sepenuh mulut, dan tidak bicara dengan bibir saja seperti orang yang sombong. Perkataannya singkat tetapi mempunyai makna dan hikmah yang dalam. Perkataannya jelas, tidak berlebihan atau kekurangan. Budi bahasanya lembur, bukan orang yang kasar tabiat dan akhlaknya, juga bukan orang yang suka menghina para sahabatya, senantiasa mengagungkan nikmat Allah walaupun sedikit. Rasulullah tidak mencela apa pun darinya dan tidak pula memujinya dengan berlebihan. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan kemarahannya – jika kebenaran didustakan – sehingga beliau memberikan hukuman demi kebenaran itu.”

Dalam riwayat lain dikatakan, “Rasulullah tidak marah disebabkan oleh urusan duniawi, tetapi apabila kebenaran didustakan, Rasulullah akan sangat marah tanpa memandang siapa pun. Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi kemarahannya, sehingga beliau memberikan hukuman demi kebenaran itu.”

“Rasulullah tidak marah berkaitan dengan kepentingannya sendiri, dan tidak pernah memberikan hukuman karena dirinya sendiri. “Apabila beliau menunjuk atau memberi isyarat ke arah sesuatu. beliau akan menunjuknya dengan seluruh telapak tangannya.

Apabila beliau merasa takjub, beliau akan membalikkan telapak tangannya.”

“Apabila Rasulullah sedang bicara, beliau selalu memukul-mukul telapak tangan kanannya pada bagian dalam ibu jari tangan kirinya untuk memberikan penekanan. Apabila Rasulullah marah, beliau akan berpaling. Apabila gembira, beliau menundukkan pandangannya. Kebanyakan tertawa beliau adalah dengan tersenyum. Senyuman Rasulullah sangat menawan bagaikan embun yang sejuk. Al Hasan berkata,”Aku rahasiakan berita ini dari adikku, al Husain bin Ali, dalam waktu yang cukup lama, kemudian aku menceritakannya ke padanya.

Namun ternyata adikku lebih dahulu mengetahuinya daripada aku. Di samping itu, al Husain telah bertanya kepada Hindun bin Abu Halah mengenai apa yang kutanyakan padanya, dan ia juga telah bertanya kepada ayahnya (Ali r.a.) mengenai kebiasaan Rasulullah saw. tentang keadaan beliau ketika di dalam rumah, di luar rumah, di majelisnya, dan cara-cara yang beliau tempuh di dalam majelis bersama para sahabatnya. Ayahnya telah menceritakan seluruh keterangan perilaku Rasulullah itu kepadanya,tanpa ketinggalan sedikit pun.” Al Husain berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku mengenai keadaan Rasulullah saw. dan ayahku menjawab: “Apabila Rasulullah saw. berada di dalam rumahnya, beliau membagi waktunya ke dalam tiga bagian.

Satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarganya dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri.

Bagian untuk diri nya sendiri dibagi pula untuk menunaikan keperluan dirinya dan menunaikan kepentingan orang lain. Tetapi Rasulullah lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Untuk kepentingan umum, beliau tidak mengurangi hak mereka sedikit pun, dan beliau memandang sama baik orang awam maupun orang yang mempunyai kedudukan (dalam agama). Namun dari segi kepribadiannya, beliau akan lebih mengutamakan orang dari sudut ketakwaannya atau kelebihannya di bidang agama.”

“Di antara orang-orang yang dilayaninya itu, ada yang memiliki satu keperluan, dua keperluan atau lebih. Rasulullah menyibukkan dirinya dengan mengurus kepentingan mereka itu dan meminta mereka agar berusaha untuk dapat memperbaiki dirinya dan umat seluruhnya dalam segala hal.

Itu disebabkan pertanyaan beliau mengenai kondisi mereka dan pemberitahuan mereka kepada beliau saw. mengenai hal-hal yang patut buat mereka.

Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaknya orang yang hadir memberitahu mereka yang tidak hadir, dan sampaikanlah hajat orang yang tidak dapat bertemu denganku, karena sesungguhnya, barangsiapa yang menyampai kan hajat seseorang yang tidak mampu untuk bertemu dengan seorang pemimpin, maka Allah akan menegakkan kakinya pada hari kiamat.”

“Tidaklah disebutkan di sisinya melainkan hal seperti itu. Dan tidak diterima dari siapa pun melainkan darinya saja. Para pencari ilmu masuk menemui beliau dan mereka tidak berpisah kecuali setelah mengecap rasa – dan dalam satu riwayat: dan mereka tidak saling berpisah kecuali mengecap rasa¹ – dan mereka keluar dalam keadaan tunduk – yakni terhadap ke baikan.”

Keadaan Rasulullah Saat Menemui Orang Banyak

Kemudian aku tanyakan kepada ayahku mengenai keadaan Rasulullah saw. apabila keluar menemui khalayak ramai, maka ayahnya menjawab, “Rasulullah saw. selalu menjaga tutur katanya. Beliau tidak berkata kata kecuali yang bermanfaat dan apabila perlu. Rasulullah senantiasa m nyatupadukan mereka dengan pembicaraan yang lemah lembut dan penuh hikmah. Rasulullah tidak menyebabkan mereka lari darinya. Beliau memuliakan orang yang dianggap mulia dalam suatu kaum, dan menjadikannya sebagai pimpinan kaumnya. Rasulullah sering mengingatkan orang banyak agar tidak saling mengganggu satu sama lain, menjaga diri agar tidak mengganggu manusia atau menakuti mereka, tanpa menghalangi mereka untuk memperoleh kegembiraan wajahnya maupun kebaikan akhlaknya. Beliau sering mencari dan menanyakan kabar sahabat-sahabatnya. Rasulullah sering menanyakan keadaan orang banyak mengenai apa yang terjadi di tengah mereka.

Beliau menghukumi kebaikan sebagai kebaikan dan mengokohkannya, serta menghukumi keburukan sebagai keburukan dan melemah kannya dengan melarangnya secara keras. Selalu adil dalam setiap urusan tanpa menimbulkan perselisihan. Beliau tidak alpa untuk memperingatkan mereka disebabkan rasa khawatir para sahabatnya akan lalai dan lebih suka kenyamanan dan santai-santai.

Dalam setiap hal, Rasulullah mempunyai cara penyelesaian yang mengarah kepada kebaikan, tidak pernah lemah untuk menegakkan kebenaran, dan tidak pernah melanggarnya. Orang-orang dari kalangan masyarakat umum yang dekat dengannya adalah orang-orang yang terbaik di kalangan mereka. Yang paling mulia di kalangan mereka adalah yang paling sering memberi nasihat. Yang paling mulia kedudukan nya di kalangan mereka di sisinya adalah mereka yang paling sering memberikan bantuan dan pertolongan.”

Majelis rasuluLLAH

hadits tentang Rasulullah

Aku pun bertanya kepadanya mengenai majelis beliau saw., bagai manakah keadaaannya?

la menjawab, “Rasulullah saw. tidak akan duduk dan bangun dalam suatu majelis, melainkan dengan berdzikir kepada Allah.

Beliau tidak meng khususkan tempat untuk dirinya, dan melarang orang lain untuk berbuat demikian. Apabila beliau sampai di suatu majelis, beliau akan duduk di mana saja beliau berhenti, dan memerintahkan agar berbuat seperti ini.

Beliau selalu memberikan bagi teman duduknya apa yang menjadi haknya. sehingga teman duduknya tidak menyangka bahwa ada orang lain yang dimuliakan oleh beliau lebih daripadanya. Siapa saja yang duduk menemui Rasulullah atau berdiri bersamanya karena ada suatu keperluan, maka beliau selalu bersabar sampai orang itu yang akan pergi terlebih dahulu. Siapa saja yang meminta suatu keperluan kepada Rasulullah, maka beliau tidak menyuruhnya pergi melainkan dengan membawa keperluan yang dia ingin kan, atau bila tidak dapat mengabulkannya, beliau menasihati dengan kata kata yang lembut. Kemurahan dan kebaikan akhlak beliau telah merata di antara manusia sehingga beliau menjadi bapak bagi mereka dan mereka menjadi sama haknya di sisi beliau.

Majelis Rasulullah adalah majelis yang penuh dengan kelembutan, rasa malu, kesabaran dan amanah. Tidak ada suara yang keras lantang di dalam majelis beliau. Hal-hal yang harus dijaga tidak pernah dicela, dan kesalahan-kesalahan orang-orang tidak pernah di sebarkan.”

“Peserta majelis itu pada umumnya berlaku adil, saling mencari kelebihan diri dalam ketakwaan. Mereka selalu merendahkan diri dan memuliakan orang yang lebih tua dan menyayangi yang muda, mendahulukan yang punya kepentingan, dan melindungi orang asing.” Aku pun bertanya kepada ayahku mengenai perilaku Rasulullah apabila berada di antara peserta-peserta majelisnya. Katanya, “Rasulullah selalu berwajah ceria, mudah bergaul, selalu melayani orang-orang yang berada di sekelilingnya dengan ramah tamah, Rasulullah sama sekali bukan orang yang kasar dan berakhlak buruk, bukan orang yang suka menjerit atau berteriak, tidak suka berbuat keji, beliau juga tidak suka mencerca dan merendahkan manusia, tidak bergurau dalam setiap perkara.

Apabila beliau tidak menyukai sesuatu, beliau melupakannya, namun tidak membuat putus asa orang yang menyukainya dan tidak pula membuatnya pergi dengan tangan hampa. Sesungguhnya beliau menjauh kan diri dari tiga hal:

Perdebatan, banyak bicara dan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

“Terhadap manusia, beliau menghindari tiga hal: tidak menghina seseorang, tidak mencari-cari aib dan keburukannya dan tidak berkata-kata kecuali dalam perkara-perkara yang beliau harapkan pahalanya.”

“Apabila Rasulullah berbicara, semua orang yang hadir mendengarkannya dengan penuh perhatian, diam tidak berbicara seakan-akan ada burung bertengger di atas kepalanya. Bila beliau berbicara maka mereka diam, namun bila beliau diam maka mereka berbicara, dan mereka tidak berani bertengkar di hadapan beliau.

Rasulullah akan ikut tertawa dengan yang ditertawakan oleh mereka. Rasulullah juga ikut merasa takjub bila mereka takjub terhadap sesuatu. Rasulullah akan bersabar atas sikap kasar orang orang asing, baik dalam ucapan maupun permintaannya, bahkan bila para sahabatnya sekalipun yang mengundang orang-orang asing itu ke da lam majelisnya.

Beliau bersabda, Jika kalian melihat orang yang mempunyai keperluan, maka hendaknya kalian membantunya.”

“Beliau tidak menerima sanjungan melainkan dari orang yang membalas pujian beliau. Rasulullah tidak pernah memutuskan pembicaraan seseorang, kecuali apabila lawan bicaranya menyeleweng, maka beliau akan memotong pembicaraannya dengan melarangnya, atau berdiri meninggalkannya. (Kata Husain) Selanjutnya aku tanyakan kepadanya, bagaimanakahbeliau diam?

Dia menjawab, “Rasulullah akan diam untuk empat alasan: ketenangan, kewaspadaan, merenung dan untuk tafakkur. Adapun perenungan beliau adalah dalam usaha untuk berlaku adil dalam memberi pertimbangan dan mendengarkan setiap pembicaraan mereka.

Tafakurnya adalah mengenai hal-hal yang kekal dan yang akan musnah. Pada diri Rasulullah terkumpul segala sifat kelembutan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu pun yang menyebabkannya menjadi marah dan tidak pula beliau meremehkan nya. Beliau sangat hati-hati di dalam empat hal: senantiasa memilih yang lebih baik, dan mengurusi mereka dalam perkara-perkara yang telah beliau saw. kumpulkan bagi mereka, baik dunia maupun akhirat.”²

Hadits ini pernah diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dengan lengkap dalam Kitab asy Syama’il dari sumber Hasan bin Ali bin Abu Thalib ra, dia berkata, “Aku bertanya kepada pamanku – kemudian dia menyebutkan hadits tersebut. Dalam hadits itu juga ada cerita al Hasan dari saudaranya, al Husain, dari ayahnya, yaitu Áli bin Abu Thalib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam kitab ad Dala’il, dari al Hakim dengan sanadnya, dari al Hasan, dia berkata,

“Aku bertanya kepada pamanku, Hindun bin Abi Halah lalu dia menyebutkan riwayat itu.” Demikian pula al Hafizh Ibnu Katsir pernah menyebutkannya dalam kitab al Bidayah (6/33). Sanad hadits ini disebutkan oleh al Hakim dalam kitab al Mustadrak (3/.640), kemudian ia menyebutkan hadits itu secara panjang lebar. Hadits itu juga dikeluarkan oleh ar Ruyani, ath Thabarani dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzal Úmmal (4/32) dan oleh al Baghawi dalam kitab al Ishabah (3/611), tetapi yang diriwayatkan dalam kitab Kanzal Ummal pada akhirnya disebutkan kalimat: “Telah terkumpul sifat waspada dalam diri beliau dalam empat hal: Beliau selalu mengambil yang lebih utama agar diikuti, meninggalkan hal-hal yang tercela agar dijauhi, ijtihad dalam mencari pemi kiran yang bisa memperbaiki umatnya, dan mengurusi mereka dalam per kara-perkara yang telah beliau saw. kumpulkan bagi mereka, baik dunia maupun akhirat.” Demikian ia menyebutkannya dalam kitab al Majma”³ (8/275) dari ath Thabarani.

Catatan kaki


¹rasa): adalah satu perumpamaan unnik ilmu dari adab yang telah mereka peroleh dari beliau, yang kedudukannya bagi ruh seperii r Judukan makanan bagi badan (In’am).

²Dua bagian lainnya tercecer dari kitab al Bidayah dalam naskah yang telah tercetak. Tetapi kedua bagian itu disebutkan secara kuat di dalam ad Dalal, ber-sumber dari riwayat al Fasawl, yaitu: “Dia meninggalkan perbuatan tercela agar itu tidak dilakukan lagi, dan berpikir keras untuk memperoleh satu pendapat yang baik bagi umatnya.” Ad Dala’l (1/292). Demikian Juga tercantum di dalam kitab Akhlaq Nabi karya Abu asy Syalkh (hal. 26) (AL Ashami)

³yakni: dalam Majma’ as Zawa’id dan Manba al Fawa’id li al Hafizh Nuruddin ‘Ali bin Abu Bakr al Haitsami, wafat 807 H. Lihat pada halaman 55 bagian itu.

You might like